Ibarat bertemu kawan yang lama
berpisah lalu bertemu dalam satu kesempatan, berbagai ungkapan perasaan serta cerita
dan pengalaman pun tercurahkan, apalagi mengingat sang teman itu kini senasib dan
seperjuangan. Kesan itulah yang muncul saat pengurus SP TPS (Serikat Pekerja Terminal Petikemas Surabaya) berkunjung ke
Kantor SP JICT, Kamis (28/2) lalu.
Suasana akrab itu tampak terlihat
dari dari perbincangan Ketua SP JICT
H Muji Wahyudi yang didampingi Sekjen Yudi Prasetyo, dengan Ketua SP TPS Slamet
Pamuju dan wakil Ketua SP TPS,
Aji Joko.
”Kami ini tidak bisa dipisahkan
dengan teman-teman SPJICT, yang sejak awal menjadi barometer kami bahkan seluruh
pekerja terminal peti kemas Indonesia
tentunya. Karena itu, kami tak akan
melewatkan tukar-menukar informasi bersama teman-teman di SP JICT” kata Slamet
Pamuju, kepada Spliker.
Menurut Pamuju, JICT dengan TPS memiliki kesamaan sebagai perusahaan yang diprivatisasi sehingga PKB pun seharusnya tak jauh beda. “Kami mengakui sampai saat ini PKB di
TPS masih berbeda jauh dibandingkan dengan PKB SPJICT” ujarnya.
Pamuju mencontohkan, keberadaan sekretariat
SPTPS Surabaya yang belum memiliki fasilitas seperti SPJICT. Selain itu, pencapaian
perusahaan dalam bentuk award belum
melibatkan unsur pekerja. ”Padahal penghargaan yang diterima perusahaan itu ada
peran pekerja, dengan produktivitas kerja yang terus meningkat setiap tahunnya”
katanya.
Di JICT, kata Pamuju, ketika
perusahaan mendapat penghargaan (award) maka ada yang diberikan kepada
karyawan. ”Ini yang saya dengar langsung dari Ketum SPJICT mengenai bonus saat perusahaan mendapat
penghargaan dituangkan dalam PKB,
ini sesuatu yang belum ada di PKB SP TPS” ungkapnya.
Pamuju menjelaskan keberhasilan SP JICT dalam meningkatkan kualitas
PKB sebagai acuan untuk memperjuangkan PKB TPS kepada manajemen khususnya manajemen
Dubai Port Holdin
Hal senada diungkapkan Aji Joko, wakil Ketua SP JICT. Menurutnya, SP TPS perlu banyak bertemu
dengan SP JICT sehingga kualitas PKB TPS terus membaik. ”Jangan seperti selama
ini yang terkesan stagnan, kami SP TPS dinilai tidak bekerja, kurang berani
berhadapan dengan pihak manajemen” ujarnya. Dengan tukar informasi ini, kata Aji, pihaknya punya bekal untuk bisa lebih
berargumentasi dengan manajemen TPS yang dinilainya belum sepenuhnya berpihak
pada kesejahteraan karyawan TPS selama ini.
”Dengan kata lain kami di depan manajemen punya gambaran jelas dan akurat
bagaimana seharusnya kualitas PKB itu dibuat untuk kedepannya” kata Aji.
Slamet Pamuju menambahkan, pihaknya berharap banyak agar teman-teman SPJICT
memotivasi perjuangan teman–teman SP TPS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar