Senin, 18 Maret 2013

SPJICT Dukung Manajemen Tingkatkan Kompetensi Pekerja

Serikat Pekerja (SP) JICT mendukung setiap langkah manajemen meningkatkan kompetensi pekerja. Bukan hanya tentang produktivitas semata, tapi persiapan bagaimana menghadapi era persaingan pelabuhan.

“Kami selalu mendukung agenda manajemen untuk meningkatkan kompetensi pekerja. Dalam jangka pendek, bagaimana meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa, sedangkan jangka panjang merupakan investasi kita dalam menghadapi persaingan pelabuhan khususnya antar terminal petikemas” ungkap Ketua Umum SPJICT,  H Muji Wahyudi.



Sejauh ini, menurutnya, keberhasilan JICT tidak terlepas dari produktivitas yang sudah dibuktikan pekerja. Karena itu, upaya peningkatan kompetensi pekerja merupakan agenda yang harus didukung dalam mempersiapkan sumber daya yang lebih baik lagi. Apalagi seiring dengan perkembangan teknologi bongkar muat yang tentunya membutuhkan keterampilan yang lebih baik lagi.

Wakil Ketua Umum SPJICT, Suwarto, menambahkan bahwa serikat pekerja memiliki komitmen yang tinggi agar JICT tampil sebagai pemenang dalam persaingan dalam pelayanan jasa bongkar muat di pelabuhan.

“Modal kita jelas, sumber daya manusia yang bagus, sistem dan  sarana prasarana bongkar muat. Dengan tiga modal tersebut, kami optimis bisa melayani pengguna jasa dengan lebih baik lagi” katanya.

Namun demikian, hal ini harus juga ditunjang komitmen manajemen untuk terus berinvestasi. Tidak hanya alat, namun juga sumber daya manusia. Dari sisi alat maupun sistem, sejauh ini JICT dikenal sebagai terminal petikemas yang memiliki peralatan modern dan canggih.

Begitu pun dengan sumber daya manusia yang juga memiliki kemampuan lebih baik. Seiring dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan pelayanan yang semakin baik, investasi untuk peningkatkan produktivitas itu merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi.

”Ada atau tidaknya terminal baru, sebenarnya tidak masalah. Karena yang paling penting adalah bagaimana kita terus-menerus memiliki jiwa kompetisi untuk tetap tampil sebagai yang terbaik dalam melayani pengguna jasa” imbuhnya.

Selain itu, antisipasi terhadap berbagai hal yang bisa berdampak terhadap pelayanan. Misalnya saja antisipasi terhadap kerusakan di lapangan penumpukan agar pelayanan tidak terganggu. Begitu juga dengan sarana bongkar muat yang karena kondisinya sudah tua agar secepatnya diganti. Dari sisi kepadatan lapangan, tetap berusaha mempertahankan yard occupancy ratio (YOR) agar tidak lebih dari 80%.

”Saya sangat optimis, jika semua itu bisa kita lakukan, JICT akan mampu menghadapi persaingan dengan terminal petikemas lainnya. Pengguna jasa pun tetap melakukan aktivitas bongkar muat di JICT karena pelayanan terbaik itu,” katanya.

Inovasi
Optimisme kesiapan JICT menghadapi persaingan terminal petikemas juga diungkapkan Sekretaris Jenderal SPJICT, Yudi Prasetiyo. Menurutnya, JICT sudah memiliki banyak pengalaman dalam melayani pengguna jasa. Ini ditunjang dengan kesiapan sumber daya manusia maupun alat bongkar muat.

”Saat ini kita sebagai terminal petikemas terbesar dengan troughput tertinggi di Indonesia. SPJICT akan mendukung upaya perusahaan mempertahankan prestasi tersebut” katanya

Termasuk dalam dukungan tersebut inovasi-inovasi yang dilakukan pihak manajemen. Menurut Yudi, selain persaingan dengan terminal lain, ke depan tantangan yang tidak kalah penting juga terkait dengan kapasitas JICT. Tahun 2012 lalu, troughput JICT sebesar 2,4 juta TEUs, sedangkan tahun ini ditargetkan 2,5 juta TEUs. Di tahun-tahun berikutnya, angkanya tentu akan terus meningkat lagi. Sementara saat ini kapasitas JICT sendiri hanya 3 juta TEUs.

”Karena itulah, kita mendorong pihak manajemen untuk melakukan inovasi serta optimalisasi di lapangan penumpukan. Tujuannya agar pelayanan yang terbaik bisa tetap diberikan kepada para pengguna jasa” ungkapnya.

Terkait dengan peningkatan kompetensi pekerja, Yudi berharap pihak manajemen merealisasikan sesuai dengan ketentuan sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

”Konsep SP mengenai pelatihan ini disesuaikan dengan kebutuhan pada masing-masing departemen. Karena itu, kita akan berkomuniasi dengan HRD dan manajer di masing-masing departemen untuk mengetahui program mereka dalam meningkatkan kompetensi pekerja. Hal ini akan menjadi acuan SP dalam mendorong pihak manajemen lebih intensif lagi melaksanakan program tersebut” katanya.

Yudi mengungkapkan, dalam PKB sudah tercantum mengenai kewajiban perusahaan menyediakan anggaran untuk peningkatan kompetensi tersebut.***  (Tim Spliker)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar